Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Teladan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 November 2015

Pentingnya Restu Ibu


Haruskah Mendapat Restu Ibu?


payung
Sekarang kita hidup di masa banyak fitnah dan cobaan. Orang yang berpegang teguh dengan ajaran islam murni bak orang yang memegang bara api. Panas memang, bahkan mungkin terbakar tangan kita, namun sekali saja kita lepaskan bara api tersebut, maka kita pun terperosok jauh ke dalam neraka.
Terkadang cobaan pun datang dari orang-orang terdekat kita. Hal ini sebagaimana persoalan yang sedang Antum hadapi sekarang ini. Keinginan menjalankan sunah namun harus dihadang oleh orang terdekat kita.
Akhi, memang islam menganjurkan kepada para pemuda yang telah mampu untuk bersegera menikah. Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – bersabda,
“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang mampu menikah, maka menikahlah. Karena menikah lebih dapat menahan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia berpuasa; karena puasa dapat menekan syahwatnya (sebagai tameng).” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari (no. 5066), Muslim (no. 1402)
Hadits ini memerintahkan para pemuda yang telah siap dan mampu menikah untuk segera menikah tanpa menunda-nunda. Selain itu, hadits ini juga menegaskan bahwa pernikahan adalah sarana terbesar untuk memelihara manusia agar tidak terjatuh ke dalam perkara yang diharamkan Allah, seperti zina, liwath (homoseksual) dan selainnya. Terlebih lagi di hari-hari ini, di mana para pemuda setiap hari disuguhi pemandangan yang membangunkan syahwat, tentunya jika ia telah mampu dan siap sangat-sangat dianjurkan baginya untuk segera menikah. Bahkan bagi para pemuda yang takut terjerumus dalam perzinaan jika tidak bersegera menikah maka hukum menikah baginya adalah wajib.
Namun, kebahagiaan tersebut seakan terenggut manakala orang tua tidak menyetujui dan tidak mengamini apa yang menjadi harapan Antum. Itulah yang dirasakan oleh sebagian orang manakala keinginan tidak tercapai.

Lalu, haruskah ikut keputusan orang tua?

Ketika orangtua menolak, bukan berarti itu akhir dari segalanya. Ia bisa menempuh beberapa langkah, antara lain:
Seyogianya ia kembali mengevaluasi dirinya sendiri. Sudahkah ia betul-betul memurnikan niat untuk menikah? Sudahkah betul-betul ia siap dan mampu? Dan sudahkah yakin dengan wanita pilihannya?
Jika ia betul-betul telah siap dan mampu, ia juga sudah yakin dengan pilihannya, serta menikah karena Allah demi menjaga kesucian dirinya, maka langkah berikutnya ia harus kembali memetakan masalah. Mencari sebab orang tua atau lebih tepatnya ibu mengapa tidak menyetujui. Kemudian didiskuisikan dengan kepala dingin dan dengan penuh hikmah. Ia harus mempertimbangkan alasan-alasan orangtua, karena memang mereka lebih berpengalaman dan telah banyak makan garam kehidupan. Tapi, jika alasan orang tua tidak dibenarkan oleh syariat, maka ia harus mendiskusikan alasan ibu Antum dengan penuh bijak dan kesabaran.
Jika semua usaha di atas telah dilakukan, dan ternyata ibu juga belum merestui keinginan dia untuk menikah, apakah cukupkah restu bapak untuk menikah?
Perlu diketahui, sebenarnya sahnya pernikahan anak lelaki tidak membutuhkan restu orang tuanya, baik bapak maupun ibu, selama ia menikah dengan mempelai wanita yang telah mendapatkan restu walinya dan dihadiri saksi, maka sahlah pernikahan mereka.
Namun, yang perlu diperhatikan, menikah bukan saja menggabungkan dua orang lawan jenis, Namun, menggabungkan dua buah keluarga besar. Sehingga, keputusan menikah adalah keputusan yang sangat besar dalam perjalanan hidup seseorang, dan konsekuensinya akan dia rasakan seumur hidup.
Oleh karena itu, hendaklah ekstra hati-hati dalam menghadapi masalah ini. Bertukar pendapatlah dengan orang yang paling berhak dijadikan rujukan, yakni orang tua kita. Biasanya mereka lebih jernih dalam melihat keadaan dari pada kita, karena mereka lebih pengalaman dalam mengarungi kehidupan, dan lebih matang pikirannya. Tentunya keputusan yang diambil dari kesepakatan antara kita dengan mereka, itu lebih baik dan lebih matang dari pada keputusan dari satu pihak saja.
Ditambah lagi, jika kita menjalani suatu keputusan atas restu dari orang tua, tentunya mereka akan selalu mendoakan kebaikan bagi kita, dan tidak diragukan lagi, doa mereka akan sangat mustajab dan menjadikan hidup kita penuh berkah, tentram, dan bahagia dunia akhirat.

Apakah ini termasuk Durhaka terhadap ibu?

Durhaka kepada orang tua adalah dosa besar. Dan durhaka terhadap ibu adalah dosa yang jauh lebih besar lagi. Dari keterangan dalam Al Quran, sunah, dan keterangan para salaf serta para ulama, kita bisa menyimpulkan bahwa durhaka kepada orang tua adalah tindakan paling memalukan yang dilakukan seorang anak berakal.
Imam an-Nawawi menjelaskan, “Rasulullah – shallallahu ‘alaihi wa sallam – menyebutkan keharusan berbuat baik kepada ibu sebanyak tiga kali, baru pada kali yang keempat untuk sang ayah, karena kebanyakan sikap durhaka dilakukan seorang anak, justru terhadap ibunya (Lihat Syarah Muslim oleh Imam an-Nawaawi I : 194)
Lalu, kapankah seseorang disebut durhaka? Ketika anak lelaki tidak menurut ibu dalam permasalahan ini sudahkah disebut durhaka kepada ibunya?
Sebelum menjawab, marilah kita menyimak keterangan para ulama tentang kaedah durhaka anak kepada orang tua.
Imam ash-Shan’aani menjelaskan, “Imam al-Bulqaini menerangkan bahwa arti kata durhaka yaitu: apabila seseorang melakukan sesuatu yang tidak remeh menurut kebiasaan, yang menyakiti orang tuanya atau salah satu dari keduanya. Dengan demikian, berdasarkan definisi itu, bila seorang anak tidak mematuhi perintah atau larangan dalam urusan yang sangat sepele yang menurut hukum kebiasaan itu tidak dianggap “durhaka”, maka itu bukan termasuk kategori perbuatan durhaka yang diharamkan. Namun bila seseorang melakukan pelanggaran terhadap larangan orang tua dengan melakukan perbuatan dosa kecil, maka yang dilakukannya menjadi dosa besar, karena kehormatan larangan orang tua. Demikian juga, disebut durhaka, bila seorang anak melanggar larangan orang tua yang bertujuan menyelamatkan si anak dari kesulitan (Lihat Subulus Salaam IV : 162)
Ibnu Hajar al-Haitsami menjelaskan, “Kalau seseorang melakukan perbuatan yang kurang adab dalam pandangan umum, yang menyinggung orang tuanya, maka ia telah melakukan dosa besar, meskipun bila dilakukan terhadap selain orang tua, tidaklah dosa. Seperti memberikan sesuatu dengan dilempar, atau saat orang tuanya menemuinya di tengah orang ramai, ia tidak segera menyambutnya, dan berbagai tindakan lain yang di kalangan orang berakal dianggap “kurang ajar”, dapat sangat menyinggung perasaan orang tua (az-Zawaajir II : 73)
Dari beberapa keterangan di atas, bisa ditarik kesimpulan, jika seorang anak berbuat hal yang tidak dianggap sepele oleh kebanyakan orang, atau berbuat sesuatu yang menyakiti orang tua, maka hal itu adalah salah satu bentuk durhaka.
Karenanya, jalur diskusi harus senantiasa diupayakan, agar jangan sampai seorang anak menikah tanpa restu orang tua. Jika memang orang tua salah, maka tidak ada salahnya anak memaafkan orang tuanya dan terus berbakti kepadanya. Sebaliknya, bagi orang tua tidak selayaknya mempersulit anak, sehingga menjerumuskan anaknya sendiri dalam dosa durhaka kepada orang tua.
Ingatlah firman Allah,
“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah, ‘Wahai Rabbku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.’” (al-Israa : 24)
Demikian, semoga bisa sedikit memberi pencerahan bagi kita semua. Wallahu a’lam. (***)

Islam Agamaku



Jumat, 06 Agustus 2010


Lima Tanda Orang yang Diterima Shalatnya

Menangis dan mengemislah kepada Allah, serta memohon ampunan atas gulungan ombak dosa seraya berucap, “Astaghfirullah
Oleh: Ali Akbar bin Agil*

SUDAH sering kita mendengar bahwa shalat adalah tiang agama. Shalat adalah amal yang paling pertama ditanya oleh Allah di hari kiamat. Jika shalat kita baik, baiklah seluruh amal perbuatan lainnya. Namun jika shalat kita jelek atau bahkan nol besar, maka buruklah semua perbuatan yang kita jalani, demikian petuah Nabi SAW kepada kita sekalian.

Sesekali kita perlu merenung, baikkah shalat yang kita kerjakan? Suatu waktu kita perlu berpikir, apakah shalat kita diterima di sisi-Nya? Bukankah Allah pernah berfirman celakalah orang-orang yang shalat? Siapakah di antara kita yang diterima shalatnya? Dan seperti apa tanda-tanda orang yang diterima shalatnya? Dalam sebuah hadits Qudsi disebutkan ada 5 tanda orang yang shalatnya diterima.

Pertama, dia yang merendahkan diri dengan shalatnya karena kebesaran Allah. Shalat yang diterima adalah shalat yang penuh kerendahan diri di hadapan kekuasaan dan kebesaran Allah SWT. Orang yang rendah diri akan mampu merasakan khusyu` dalam hatinya. Jiwanya sadar dan mengerti dengan siapa ia saat ini menghadap.

Karena itu, sebelum shalat, yang harus ditata terlebih dahulu adalah hati. Hati itu seperti pohon. Bila dahannya rindang, burung-burung pun senang hinggap di atasnya. Bila hati bercabang pikiran-pikiran dan nafsu pun senang bermain di dalamnya. Shalatlah shalat yang memutuskan perpisahan dari dunia. Allah tidak akan terasa bila urusan dunia menggelayut dalam hati.

Kedua, orang yang tidak menyombongkan diri kepada makhluk Allah. Rasa tawadhu` dengan sendirinya menghilangkan sikap angkuh dan sombong kepada sesama makhluk. Kekuasaan yang ada di genggamannya tidak menyebabkan dirinya lupa daratan lalu berbuat sewenang-wenang karena ia sadar bahwa kekuasan adalah amanat Allah.

Orang yang diterima shalatnya adalah orang yang tidak menyombongkan dirinya kepada siapa pun. Meski ia kuasa, pandai, dan kaya. Tidak termasuk orang yang diterima shalatnya kalau bertingkah sombong kepada sesamanya.

Ketiga, orang yang tidak mengulangi maksiat kepada Allah. Dalam hidup, sekali waktu kita pernah terjerembab dalam kubangan dosa. Mungkin di antara kita ada yang pernah memalsukan kwitansi jual-beli. Mungkin ada dari kita yang pernah menjadi tukang copet, koruptor, atau penjual kehormatan. Mungkin ada dari kita yang pernah berdusta, menggunjing, berbohong, menebar janji-janji `surga' kepada rakyat saat Pilkada yang tak ditepati. Kenanglah perbuatan masa lalu itu sebelum shalat, lalu lakukan shalat dengan hati taubat dan siap menghadap kepada-Nya.

Menangis dan mengemislah kepada Allah, memohon ampunan atas gulungan ombak dosa seraya berucap, “Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah.” Usai shalat, jangan ulangi maksiat yang pernah kita lakukan.

Keempat, orang mengisi sebagian siangnya dengan berzikir kepada Allah. Waktu bagi orang mukmin, amatlah berharga. Manajemen waktu dilaksanakan dengan penuh kedisplinan. Sebagian detik-detiknya ia lalui dengan meladeni Allah, bersimpuh sujud, ingat dan tawakkal kepada-Nya.

Nabi yang merupakan sosok dengan keterjagaan dari segala dosa, baik yang telah lewat maupun akan datang, toh beliau tidak jumawah. Beliau beristighfar memohon ampunan kepada Allah tidak kurang 100 kali dalam sehari. Bagaimana dengan kita?

Kelima, orang yang menyayangi orang miskin, orang dalam perjalanan, wanita yang ditinggal suaminya, dan yang mengasihi orang yang ditimpa musibah. Shalat yang dilakukan membekas dalam kehidupan sebagai khalifah Allah yang saling cinta-mencintai, sayang-menyanyangi antara satu dengan lainnya. Ibadah sosial menjadi warna-warni bunga hidupnya yang senantiasa ia berikan kepada siapa saja untuk membahagiakan diri orang lain yang membutuhkan.

Bila kelima ciri orang yang diterima shalatnya ini telah terpenuhi, maka kata Allah:

“Cahayanya bagaikan cahaya matahari. Aku lindungi dia dengan kekuasaan-Ku. Aku perintahkan malaikat menjaganya. Aku jadikan cahaya dalam kegelapannya. Aku berikan ilmu dalam ketidaktahuannya. Perumpamannya dibandingkan dengan makhluk-Ku yang lain adalah seperti perumpamaan firdaus di surga.”
www.hidayatullah.com 

Mengapa Aku Berhijab?



Rabu, 23 Juli 2014


Hijabku ternyata Pelindungku

Assalamualaikum,

Aku memang bukan orang yang cukup dikenal, tapi aku yakin akan ada seseorang yang mengenalku sebelumnya yang akan membaca blog aku ini, Jangan suntuk ya baca blog ini yang begitu panjang, maklumlah namanya hidup"Need Process", disini aku akan menceritakan proses bagaimana pada akhirnya aku memutuskan untuk Berhijab.
Aku Aldhila Maharani Iskandar Muda / Dhila
  Dulu, aku memang mengenal & dikenal orang banyak sampai-sampai mereka terkadang berkata "ternyata dunia itu sempit ya dhil, gue main kesana ternyata mereka kenal lo, gue main kesini ternyata lo pun kenal mereka". Entahlah, aku tidak terlalu mempedulikan perkataan itu karena memang itulah aku, tidak pernah puas mempunyai teman yang banyak, bahkan dalam sekejap jika aku mengenal orang yang baru, detik itu juga aku bisa langsung akrab dengan mereka.

Pengalaman pahitku, mungkin karna dulu aku sedikit berani memposting foto fotoku dengan pakaian yang minim sehingga banyak sekali yang mengkritikku dari mulai yang positif sampai negatif, kalopun positif nampaknya akan mengarah pada hal negatif karena yang tertarik pasti kebanyakan kaum Adam, aku saat itu masih cuek bahkan tidak peduli apa kata orang. Di fikiranku saat itu hanya ingin mengekspresikan apa yang menjadi hobbyku terutama dalam hal photography, aku pun tidak pernah menghentikan apa yang menjadi hobbyku.

Tetapi ketika aku sendiri, hening, dan hendak tidur, disitulah aku mulai memikirkan hal hal yang membuatku perlahan sadar, ternyata dengan keadaanku yang seperti itu, yang selalu mengumbar auratku malah justru membuat mereka khilaf dan memandangku negatif, mereka selalu menilaiku dari fisikku bukan dari "siapa aku", sejujurnya aku ingin sekali dipandang orang karena siapa diri aku sebenarnya tapi memang aku yang salah menunjukkannya.

Beberapa orang telah memperingatkanku akan satu hal yang bagi mereka itu sangatlah penting tetapi bagiku sendiri, aku belum siap untuk melakukan hal itu..

"Berhijablah!"
"Ibumu sudah Berhijab, kamu kapan??"
"Kamu lebih pantas foto dengan hijabmu dhil"
"Tutuplah Auratmu, agar semua orang bisa menghormatimu dan tidak mengolok-olokmu"
Inilah Prosesnya, Insya Allah perlahan kalian akan seperti ini, aku sudah melewati tahap 1 hingga 4, mungkin kini aku masih berada di tahap ke-5..


Dan aku hanya diam, diam, tersenyum ragu, lalu diam kembali, dan bertanya-tanya dalam hati..
"aku belum siap dan tidak bisa dipaksa"
"aku takut dibilang munafik, kerdus(kerudung dusta)"
"aku takut dibilang sok alim, padahal busuk"
"apakah aku pantas menggunakannya setiap hari tanpa harus copot pasang copot pasang?"

Seiring berjalannya waktu akupun dimakan oleh umur, yang semakin beranjak dewasa bahkan tua dan semakin memikirkan segala sesuatu yang dapat membuat diriku jadi lebih baik lagi kedepannya dan demi masa depanku, niat awal aku tulus dan siap menggunakan "Hijabku" ketika aku berumur 21 tahun pada tanggal 30 juni saat ulang tahunku,

Namun, di awal bulan juni, aku sering bermimpi aneh bahkan tidak hanya sekali,

Pertama aku bermimpi, aku berjalan di lorong yang putih suci tidak ada kotoran sedikitpun di dinding dan banyak pintu di sisi kanan dan kiri, aku berjalan di lorong itu didampingi oleh kyai tua bersorban putih dan berpakaian serba putih, beliau mengantarku dan menunjukkan aku beberapa hal, pertama ditunjukkannya pintu pertama di sisi kiri kami, tapi kami tidak memasuki ruangan itu, kami tetap berdiri diam di lorong itu, didalamnya.. Naudzubilahimindzalik ada sebuah jembatan kayu yang dibawahnya terdapat api yang membara, aku berharap bukan itu tempatku. Lalu pintu kedua di sisi kanan kami, ada beberapa orang disitu yang membaca Al-Quran, namun mereka tidak fasih membacanya dan Al-Quran tersebut memerah & membara seakan-akan marah karna tidak bisa dibaca dengan sempurna :(, lalu akupun terbangun dari mimpi itu.

Kedua aku bermimpi, aku berjalan sendiri di padang pasir dan di tempat yang aku tidak tahu dimana aku saat itu, yang jelas dalam mimpi itu aku menggunakan sendal hitam, dan berpakaian serba hitam panjang, bisa dibilang sudah Syar'i dan aku menutupi wajahku dengan cadar, lalu aku terbangun lagi dari mimpi itu..

Aku takut sekali, seringkali aku terbangun dengan tetesan air mata dan bertanya-tanya pertanda apakah itu? apakah aku sudah berlumur dosa??

Dan aku sadar, itulah HIDAYAH bagiku, sudah diperintahkanNYA aku bertaubat dan merubah diriku sendiri ke jalan yang lebih baik dan lebih mendekatkan diri kepadaNYA..
Mimpi itu memang bunga tidur, tetapi bagiku bisa saja beberapa mimpi memang pesan dari Allah untukku, pesan berupa teguran yang bisa membuatku memikirkannya nyaris setiap hari, aku hanya takut ketika Allah benar-benar murka kepadaku, aku takut masuk neraka yang panasnya Naudzubilahimindzalik mungkin berkali kali lipat dari panasnya knalpot motor kita :'( terbayangkah kalian jika kita meleleh bagaikan lilin yang dibakar oleh setitik api?? sangat menakutkan!!

Tepat pada tanggal 11 Juni aku memutuskan untuk "Berhijab" hingga saat ini dan Insya Allah selamanya....

Banyak tanggapan positif yang aku terima, tetapi namanya juga manusia masih saja ada yang menanggapi perubahanku berupa cibiran, ada yang bilang aku hanya menutupi kedok karena dulunya aku itu sama sekali tidak baik bahkan dipandang liar bagi mereka, ada yang bilang sok alim, ada yang bilang tidak pantas,
Ya Allah, cobaannya begitu berat,
hari pertama saja ketika aku kerja secara kebetulan AC di kantor mati seharian dan aku merasakan panasnya ruangan itu sampai aku berkeringat dan disitulah kesabaranku diuji, aku harus menahan hawa panas itu kurang lebih 9 jam kerja, dan menahan sekuat aku untuk tidak mengeluh kepanasan. pulang kerjapun, tidak disangka-sangka ternyata hujan deras, begitu deras saat itu, padahal pagi nampaknya cuaca cerah terang benderang, lalu aku bergegas pulang dan memakai mantelku yang cukup tebal, aku tetap menyalakan motorku dan melawan derasnya hujan, biasanya mantelku tidak menyerap air sedikitpun tetapi hari itu celana ku basah kuyub dan benar benar tidak ada bagian dari celanaku yang kering, kejadian hari pertamaku itu memang cukup aneh, tapi aku jadikan itu sebuah ujian dari Allah yang Alhamdulillah dapat aku lewati.

Tetapi semakin kesini, aku semakin nyaman menggunakan Hijabku, semenjak berHijab aku semakin mencintai Allah SWT, bahkan mencintai agamaku lebih dalam, Cinta terhadap sesama manusia, Cinta terhadap hewan/peliharaanku, Cinta terhadap lingkungan/tumbuhan sekitarku, Aku tidak menginginkan pujian apapun yang berlebihan, akupun berHijab tidak sekedar memakai saja tetapi memahaminya juga lebih dalam dengan apa yang telah menjadi pilihanku  Dan sekarang aku lebih dihargai oleh semua kalangan, dan aku masih bisa berekspresi sebebasku, yang beda cuma satu kok, hanya nafsuku yang kini dibatasi oleh Hijab, Hijab itu pelindungku.. bukan halanganku untuk menyongsong masa depan..
Aku memutuskan tidak akan pernah melepasnya, memang aku tidak berjanji, tetapi semasih aku hidup aku akan terus menutupi auratku dari banyak orang..Percayalah pada Allah SWT yang selalu BENAR.. bahwa menutupi Auratmu dapat menjadi pelindungmu dari orang-orang yang ingin jahat kepadamu..Ingat ya akupun hingga saat ini masih tahap belajar dan belajar memahami, di dalam diriku masih banyak kekurangan, aku tidak paham terlalu banyak soal ini tetapi setidaknya dari diriku ada niat untuk merubah dari yang tadinya menurutku itu buruk menjadi sesuatu yang baik dan mungkin berguna bagiku untuk masa depanku.. aku kini optimis "AKU PANTAS MENDAPATKAN MASA DEPAN YANG CERAH" dan aku pantas meluruskan jalanku kembali kepadaNYA..


Pesan bagiku untuk kalian yang masih ragu untuk berhijab:
- Berhijablah dengan ketulusan hati kalian tanpa adanya paksaan.
- Siap ga siap kalian harus siap, terutama secara mental dan fisik.
- Gausah pikirin apa kata orang, biarlah mereka menilai kita seperti apa, Jangan takut dicibir, ingat saja jika seseorang membicarakanmu dan hal itu negatif maka kitapun tidak rugi karna barter dosa dengan pahala :D, dosa kita pindah ke dirinya, Pahala dia yang kita dapat! dan yang jelas siapa dirimu sebenarnya, hanya Allah dan kamu yang tau, Allah yang berhak menjudge kita seperti apa.

- Hijab bukan halangan kamu untuk beraktifitas kok, jika kamu merasa Berhijab itu membosankan, coba ubah pola fikir kamu, search di google, youtube, blog, apapun di socmed untuk mengubah hijabmu menjadi sesuatu yang lebih berwarna dan kamu bisa mengkreasikannya sendiri sekali-kali.
- Jangan pernah berhenti menyebarkan kewajiban kita sebagai seorang Muslim ya? terutama bagi kaum Hawa, yang seharusnya menutupi & menjaga kehormatannya. Dimulai dari diri sendiri lalu sampaikanlah pada orang-orang terdekatmu akan hal ini.
- Ingat walau aku menyarankan kalian untuk berkreasi, Hijab tetap mempunyai aturan yang kekal, sebelumnya kalian bisa baca di Ayat Quran yaitu Ayat Hijab / Al-Ahzaab33(59-60) or copy/paste this link >>http://fathi007.wordpress.com/2010/10/27/ayat-hijab-al-ahzaab33-59-60/  , pahamilah :)

Jadilah Perempuan Sumber Inspirasi

Muslimah, Jadilah Perempuan-Perempuan Sumber Inspirasi


Siapa yang tidak kenal Nurfitri Moeslim Taher? Seorang relawan wanita yang melambung namanya karena keberaniannya bergabung dengan tim relawan yang berangkat ke Gaza untuk mengantarkan bantuan bagi rakyat Palestina. Tentu kita yang banyak menyimak perkembangan terkini saudara- saudara kita di Palestina, mengetahui jika ternyata beliau adalah juga seorang ibu dari tiga putra.
Ia, berani meninggalkan anak- anak dan suami yang dikasihinya, demi menunaikan tugas kemanusiaan.
Dalam sejarahnya, peran wanita yang membela perjuangan Islam bukan hanya terjadi sekali ini saja. Sebut saja Nusaibah binti Kaab. Seorang shahabiyah yang mengikuti perang Uhud di masa Rasulullah Saw, yang berperan sebagai pemasok logistik, dan merawat prajurit yang luka- luka.
Walaupun Nusaibah tidak bertugas di garda depan, tetapi, diceritakan bahwa dalam peperangan tersebut terjadi kekacauan sehingga apa-apa yang sudah diinstruksikan Nabi Saw tentang strategi pada waktu itu tidak berjalan lancar. Hal tersebut menyebabkan pasukan kaum Muslimin bercerai-berai , menyebabkan kepanikan, sehingga terancamnya jiwa Nabi.
Berikut ini saya nukil dari situs Al-Kisah, ”Ketika Nusaibah melihat Nabi menangkis serangan musuh sendirian (karena pasukan kaum Muslimin sudah tidak terarah lagi), lalu Nusaibah mempersenjatai dirinya, dan bergabung dengan yang lainnya membentuk sebuah formasi pertahanan untuk melindungi Rosulullah Saw.”
Ada nama lain di zaman modern ini, yang telah mengukir sejarah dengan prestasi perjuangannya yang dipenuhi oleh ujian yang sangat berat.
Dialah, Zainab Al Ghozali. Wanita pejuang kemanusiaan yang hebat ini hidup dan berjuang semasa pemerintahan Gamal Abdul Naser yang terkenal sewenang-wenang. Wanita hebat ini, yang menghembuskan nafas terakhirnya pada tahun 2005 silam, pernah ditangkap oleh aparat penguasa di Mesir sekitar tahun 1965, tanpa surat tugas atau lainnya, dan langsung dijebloskan kedalam penjara yang sangat pengap dan di penjara ia mengalami berbagai siksaan.
Diceritakan bagaimana Zainab di dalam penjara, ditemani oleh anjing- anjing lapar tapi ia tetap bersabar, dan memohon pertolongan dari Allah Swt. semata, sambil terus berzikir, “Ya Allah, sibukkanlah aku dengan (mengingat)-Mu hingga melupakan selain-Mu.Wahai Zat Yang Maha Esa, wahai Zat yang menjadi tempat bergantung. Bawalah aku dari alam kasar ( dunia) ini. Sibukkanlah aku agar tidak mengingat seluruh hal selain-Mu. Sibukkanlah aku dengan mengingat-Mu, bawalah aku di hadirat-Mu. Berilah aku ketenangan yang sempurna dari – Mu. Liputilah aku dengan pakaian kecintaan-Mu. Berikanlah kepadaku rezeki mati syahid di Jalan-Mu, keridhaan pada (ketentuan)-Mu. Ya Allah, teguhkanlah diriku, sebagaimana keteguhan yang dimiliki oleh ahli tauhid ! “dan gigi- gigi tajam dari anjing yang sengaja dimasukan oleh sipir penjara, yang ingin menggigit dan mengoyak- ngoyak tubuhnya itupun tidak membuat satu helai pakaian pun yang terkoyak, dan tubuhnya pun masih tetap utuh, tidak ada satupun bekas gigitan anjing pada kulitnya, atas pertolongan Allah Swt. Subhanallah.
Jadi, siapapun dari kita, para wanita yang sudah komit dengan jalur dakwah ini, maka bersiaplah untuk menghadapi berbagai ujian yang menerpa, ujian berupa kesenangan yang akan melalaikan, ataupun ujian berupa kepahitan yang sangat menyesakkan.
Karena begitu luasnya bidang garapan seorang wanita, maka dia juga harus pandai- pandai menyeimbangkan berbagai perannya, antara kewajiban terhadap anak dan suami, dengan peran serta tugasnya yang tidak mudah itu, diluar rumah.
“Dan barang siapa mengerjakan amal kebajikan , baik laki- laki maupun perempuan sedang dia beriman, maka mereka itu akan masuk kedalam syurga dan mereka tidak didzolimi sedikitpun,” ( QS.An-Nisa: 124)
Diatas semua itu, lagi- lagi kita perlu banyak banyak minta keridaan suami atas semua langkah yang diambilnya. Karena walau bagaimanapun, rida Allah Swt. adalah juga rida dari suami. Dibalik langkah- langkah kita, ada doa yang tulus dari suami, yang senantiasa mengkhawatirkan keselamatan kita ketika berada di luar rumah. Semoga kita semua mampu menjaga kepercayaan suami – suami kita, serta tetap dalam niat kita semula, sehingga apa yang sudah kita upayakan tidak sia- sia dihadapan Allah Swt.
Tentu ketika kita berkiprah di luar rumah, mencari prestasi bukanlah sebuah tujuan. Amat dangkallah jika memang itu yang dicari. Kiprah wanita diluar rumah, tak lebih hanya karena kewajiban semata. Coba kita perhatikan, para ustazah yang mengisi pengajian untuk kaum pekerja wanita yang tengah bersemangat menggali Islam, ditengah kesibukannya bekerja. Atau para pengajar yang senantiasa mengajarkan huruf demi huruf dari Al-Quran bagi anak- anak kita.
Begitulah, kita, para wanita dapat membawa keberkahan dimuka bumi ini, ataupun sebaliknya, sebagai pembawa kerusakan. Naudzubillah.
Maka, apalagi yang kita tunggu? Yuk, kita perbaiki kiprah kita, minimal menjadi teladan bagi anak- anak kita, menjadi panutan bagi mereka, dimulai dari memperbaiki pribadi- pribadi kita
!

Selasa, 03 November 2015

Muslimah

ASSALAMUALAIKUM UKHTI

Tau ngak sih apa itu muslimah ??
Dan tahukah juga kalian bagaimana seorang muslimah itu ??
Nah, disini kami akan mengupas tentang kata  ''MUSLIMAH''
      
HAPPY READING UKHTI !!!






Pengertian Muslimah

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang
Pertama kita mulai dengan pengertian Muslim terlebih dahulu, agar kita tahu bahwa begitu Mulia nya seorang wanita dalam Islam. Wanita yang sudah menjadi ibu  yang mengandung kita semua selama sembilan bulan tanpa merasa letih. Ia juga yang merawat kita dengan tangannya yang lembut. Ia adalah seorang wanita. Jika ditanya jasa apakah yang tidak akan pernah terbayarkan oleh uang sebesar apapun, jawabannya adalah jasa para ibu, yang dalam agama Islam disebut sebagai muslimah.
Coba bayangkan betapa besarnya peran ibu hingga nilainya tiga kali lipat dari ayah. Ibu yang baik, tentunya juga dalam Islam disebut dengan muslimah yang baik pula, akan mendapat pahala yang besar jika mampu mendidik anak-anaknya dengan baik, menyayangi suami serta keluarganya sepenuh hati. Subhanallah semoga kita termasuk golongan di dalamnya, amien.
Isi Al-Qur’an pun memperlihatkan bahwa begitu besarnya peran seorang wanita, sehingga salah jika ada orang yang menganggap bahwa wanita itu lemah dan memiliki derajat yang rendah. Hal tersebut tersurat dalam surat Luqman ayat 14 yang memiliki arti “dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu. Hanya kepada-Ku lah kamu akan kembali.”
Begitu jelasnya bahwa para muslimah memiliki Andil yang sangat besar bagi kehidupan seorang anak dan bahkan bagi sebuah keluarga. Tidak jarang, sekarang ini kita banyak menemukan seorang ibu yang justru bekerja membanting tulang untuk menghidupi keluarganya. Tidak kah kita terenyuh akan perjuangan para wanita perkasa ini? Mereka rela tidak makan agar anaknya dapat sesuap nasi ini. Mereka rela bekerja keras melakukan segala pekerjaan yang seharusnya dilakukan kaum pria agar anak-anaknya dapat sekolah. Subhanallah..Maha suci Allah yang telah menciptakan wanita-wanita mulia dan hebat ini. Ialah seorang muslimah.


CIRI-CIRI WANITA SOLEHAH MENURUT AL-QURAN

Animasi wanita solehah



siapakah wanita sholehah yang slalu di damba oleh setiap pria, dan bagaimana ciri-cirinya ??

baiklah akan saya ambilkan dari ayat al-qur'an dan tafsir nya tentang siapa dan bagaimana ciri-ciri wanita sholehah ;-)


Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

"Wanita (istri) shalihah adalah yang taat lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada dikarenakan Allah telah memelihara mereka." (An-Nisa: 34)

Dalam ayat yang mulia di atas disebutkan di antara sifat wanita shalihah adalah taat kepada Allah dan kepada suaminya dalam perkara yang ma'ruf lagi memelihara dirinya ketika suaminya tidak berada di sampingnya.

"Tugas seorang istri adalah menunaikan ketaatan kepada Rabbnya dan taat kepada suaminya, karena itulah Allah berfirman: "Wanita shalihah adalah yang taat," yakni taat kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala, "Lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada." Yakni taat kepada suami mereka bahkan ketika suaminya tidak ada (sedang bepergian, pen.), dia menjaga suaminya dengan menjaga dirinya dan harta suaminya." (Taisir Al-Karimir Rahman, hal.177)





Ada kisah Ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menghadapi permasalahan dengan istri-istrinya sampai beliau bersumpah tidak akan mencampuri mereka selama sebulan, Allah Subhanahu wa Ta'ala menyatakan kepada Rasul-Nya Shallallahu 'alaihi wa sallam:




عَسَى رَبُّهُ إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا مِنْكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تآئِبَاتٍ عَابِدَاتٍ سآئِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا




"Jika sampai Nabi menceraikan kalian, mudah-mudahan Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kalian, muslimat, mukminat, qanitat, taibat, 'abidat, saihat dari kalangan janda ataupun gadis." (At-Tahrim: 5)




a. Muslimat: wanita-wanita yang ikhlas (kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala), tunduk kepada perintah Allah ta'ala dan perintah Rasul-Nya.


b. Mukminat: wanita-wanita yang membenarkan perintah dan larangan Allah Subhanahu wa Ta'ala

c. Qanitat: wanita-wanita yang taat

d. Taibat: wanita-wanita yang selalu bertaubat dari dosa-dosa mereka, selalu kembali kepada perintah (perkara yang ditetapkan) Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam walaupun harus meninggalkan apa yang disenangi oleh hawa nafsu mereka.

e. 'Abidat: wanita-wanita yang banyak melakukan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala (dengan mentauhidkannya karena semua yang dimaksud dengan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala di dalam Al-Qur'an adalah tauhid, kata Ibnu Abbas radhiallahu 'anhuma).

f. Shoimat: wanita-wanita yang berpuasa. (Al-Jami' li Ahkamil Qur'an, 18/126-127, Tafsir Ibnu Katsir, 8/132)




Istri-istri sholehah bisa kita rinci dengan lainnya yang Akan Q ambil keterangan-keterangannya dari hadis,
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan:



إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيْلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ




"Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai." (HR. Ahmad 1/191)




1. Penuh kasih sayang, selalu kembali kepada suaminya dan mencari maafnya.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :




أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ اَلْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ الْعَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا، الَّتِى إِذَا غَضِبَ جَاءَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِي يَدِ زَوْجِهَا، وَتَقُوْلُ: لاَ أَذُوقُ غَضْمًا حَتَّى تَرْضَى




"Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: "Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha." (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257.)

2. Melayani suaminya (berkhidmat kepada suami) seperti menyiapkan makan minumnya, tempat tidur, pakaian, dan yang semacamnya.

3. Menjaga rahasia-rahasia suami, lebih-lebih yang berkenaan dengan hubungan intim antara dia dan suaminya. Asma' bintu Yazid radhiallahu 'anha menceritakan dia pernah berada di sisi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika itu kaum lelaki dan wanita sedang duduk. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya: "Barangkali ada seorang suami yang menceritakan apa yang diperbuatnya dengan istrinya (saat berhubungan intim), dan barangkali ada seorang istri yang mengabarkan apa yang diperbuatnya bersama suaminya?" Maka mereka semua diam tidak ada yang menjawab. Aku (Asma) pun menjawab: "Demi Allah! Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka (para istri) benar-benar melakukannya, demikian pula mereka (para suami)." Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:




فَلاَ تَفْعَلُوا، فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِثْلُ الشَّيْطَانِ لَقِيَ شَيْطَانَةً فِي طَرِيْقٍ فَغَشِيَهَا وَالنَّاسُ يَنْظُرُوْنَ




"Jangan lagi kalian lakukan, karena yang demikian itu seperti syaithan jantan yang bertemu dengan syaitan betina di jalan, kemudian digaulinya sementara manusia menontonnya." (HR. Ahmad 6/456,) 

4. Selalu berpenampilan yang bagus dan menarik di hadapan suaminya sehingga bila suaminya memandang akan menyenangkannya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أَلاَ أُخْبِرَكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ، اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهَ وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهَ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهَ

"Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya". (HR. Abu Dawud no. 1417.)

5. Ketika suaminya sedang berada di rumah (tidak bepergian/ safar), ia tidak menyibukkan dirinya dengan melakukan ibadah sunnah yang dapat menghalangi suaminya untuk istimta' (bernikmat-nikmat) dengannya seperti puasa, terkecuali bila suaminya mengizinkan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

"Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada (tidak sedang bepergian) kecuali dengan izinnya". (HR. Al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026)
6. Pandai mensyukuri pemberian dan kebaikan suami, tidak melupakan kebaikannya, karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda: "Diperlihatkan neraka kepadaku, ternyata aku dapati kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita yang kufur." Ada yang bertanya kepada beliau: "Apakah mereka kufur kepada Allah?" Beliau menjawab: "Mereka mengkufuri suami dan mengkufuri (tidak mensyukuri) kebaikannya. Seandainya salah seorang dari kalian berbuat baik kepada seorang di antara mereka (istri) setahun penuh, kemudian dia melihat darimu sesuatu (yang tidak berkenan baginya) niscaya dia berkata: "Aku tidak pernah melihat darimu kebaikan sama sekali." (HR. Al-Bukhari no. 29 dan Muslim no. 907)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah bersabda:
لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَى امْرَأَةٍ لاَ تَشْكُرُ لِزَوْجِهَا وَهِيَ لاَ تَسْتَغْنِي عَنْهُ
"Allah tidak akan melihat kepada seorang istri yang tidak bersyukur kepada suaminya padahal dia membutuhkannya." (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa.)



Istri-istri sholehah bisa kita rinci dengan lainnya yang Akan Q ambil keterangan-keterangannya dari hadis,

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menyatakan:




إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيْلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ





"Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai." (HR. Ahmad 1/191)





1. Penuh kasih sayang, selalu kembali kepada suaminya dan mencari maafnya.


Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :





أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ اَلْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ الْعَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا، الَّتِى إِذَا غَضِبَ جَاءَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِي يَدِ زَوْجِهَا، وَتَقُوْلُ: لاَ أَذُوقُ غَضْمًا حَتَّى تَرْضَى





"Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada tangan suaminya seraya berkata: "Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha." (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257.)


2. Melayani suaminya (berkhidmat kepada suami) seperti menyiapkan makan minumnya, tempat tidur, pakaian, dan yang semacamnya.


3. Menjaga rahasia-rahasia suami, lebih-lebih yang berkenaan dengan hubungan intim antara dia dan suaminya. Asma' bintu Yazid radhiallahu 'anha menceritakan dia pernah berada di sisi Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ketika itu kaum lelaki dan wanita sedang duduk. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bertanya: "Barangkali ada seorang suami yang menceritakan apa yang diperbuatnya dengan istrinya (saat berhubungan intim), dan barangkali ada seorang istri yang mengabarkan apa yang diperbuatnya bersama suaminya?" Maka mereka semua diam tidak ada yang menjawab. Aku (Asma) pun menjawab: "Demi Allah! Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka (para istri) benar-benar melakukannya, demikian pula mereka (para suami)." Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:




فَلاَ تَفْعَلُوا، فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِثْلُ الشَّيْطَانِ لَقِيَ شَيْطَانَةً فِي طَرِيْقٍ فَغَشِيَهَا وَالنَّاسُ يَنْظُرُوْنَ





"Jangan lagi kalian lakukan, karena yang demikian itu seperti syaithan jantan yang bertemu dengan syaitan betina di jalan, kemudian digaulinya sementara manusia menontonnya." (HR. Ahmad 6/456,) 


4. Selalu berpenampilan yang bagus dan menarik di hadapan suaminya sehingga bila suaminya memandang akan menyenangkannya. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:


أَلاَ أُخْبِرَكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ، اَلْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهَ وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهَ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهَ

"Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan mentaatinya dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya". (HR. Abu Dawud no. 1417.)

5. Ketika suaminya sedang berada di rumah (tidak bepergian/ safar), ia tidak menyibukkan dirinya dengan melakukan ibadah sunnah yang dapat menghalangi suaminya untuk istimta' (bernikmat-nikmat) dengannya seperti puasa, terkecuali bila suaminya mengizinkan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

"Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada (tidak sedang bepergian) kecuali dengan izinnya". (HR. Al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026)
6. Pandai mensyukuri pemberian dan kebaikan suami, tidak melupakan kebaikannya, karena Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda: "Diperlihatkan neraka kepadaku, ternyata aku dapati kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita yang kufur." Ada yang bertanya kepada beliau: "Apakah mereka kufur kepada Allah?" Beliau menjawab: "Mereka mengkufuri suami dan mengkufuri (tidak mensyukuri) kebaikannya. Seandainya salah seorang dari kalian berbuat baik kepada seorang di antara mereka (istri) setahun penuh, kemudian dia melihat darimu sesuatu (yang tidak berkenan baginya) niscaya dia berkata: "Aku tidak pernah melihat darimu kebaikan sama sekali." (HR. Al-Bukhari no. 29 dan Muslim no. 907)
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga pernah bersabda:
لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَى امْرَأَةٍ لاَ تَشْكُرُ لِزَوْجِهَا وَهِيَ لاَ تَسْتَغْنِي عَنْهُ
"Allah tidak akan melihat kepada seorang istri yang tidak bersyukur kepada suaminya padahal dia membutuhkannya." (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa.)